Minggu, 28 April 2013

Muslim turunan jawa

Tiga Tipe Komunitas Muslim Jawa Suriname di Belanda
Parsudi Suparlan mengelompokkan komunitas Muslim Jawa di Suriname menjadi tiga; tradisionalis, reformis, dan reformis-moderat. Kelompok tradisionalis adalah mereka yang masih menghadap ke Barat ketika shalat dan tetap memelihara keberlangsungan tradisi Jawa. Keyakinan yang seperti ini berimplikasi kepada ketaatan mereka terhadap ajaran Islam tidak dijalankan secara sepenuhnya
. Kelompok yang berseberangan dengan Tradisionalis adalah Reformis yang telah merubah arah kiblat shalat mereka ke timur dan selalu berupaya untuk mengkampanyekan pemurnian ajaran Islam dengan hanya berdasar kepada al-Qur’an dan Hadis. Di antara dua kutub ini terdapat kelompok Reformis Moderat yang sesungguhnya memiliki pemahaman awal yang sama  dengan kelompok Reformis, namun mereka masih bersikap toleran terhadap tradisi masyarakat Muslim Jawa Suriname, khususnya terkait dengan ritual-ritual yang dilakukan dalam siklus hidup manusia.[20]
Karena ketiga kelompok masyarakat di atas juga dapat ditemui di Belanda, maka pengelompokan tersebut masih dianggap relevan dalam penelitian ini, meskipun perlu diberikan beberapa penyesuaian. Pertama, penggunaan istilah Tradisionalis untuk kelompok pertama lebih tepat diganti dengan Muslim Kejawen karena nama itulah yang secara riil digunakan di Negara asal nenek moyang mereka (Indonesia) di samping sebagai identitas kesukuan.[21] Kedua, dua kelompok lainnya, Reformis dan Reformis Moderat, sesungguhnya dapat dibedakan berdasarkan afiliasi madzhab teologi dan hukumnya. Sementara kelompok Reformis Moderat berafiliasi kepada madzhab Syafi’iyah dan Asy’ariyah, kelompok Reformis lebih suka berafiliasi kepada madzhab Hanbaliyah dan Wahabiyah.
Karakter paling menonjol dari kelompok Muslim Kejawen adalah bahwa mereka memiliki pemahaman sinkretis tentang Islam. Bagi mereka, kemunculan Islam di Indonesia berjalin erat dengan kepercayaan Jawa kuno termasuk Hindu dan Budha. Kelompok Muslim Kejawen di Belanda diwakili oleh komunitas Sida Mulya yang didirikan pada tahun 1979. Meskipun komunitas ini juga terkenal dengan sebutan wong madhep ngilen, menunjukkan arah kiblat mereka yang masih menghadap ke barat, mereka sesungguhnya tidak memiliki tempat ibadah. Yang mereka miliki adalah sebuah ruang serba guna. Di sinilah seluruh kegiatan komunitas Sida Mulya dilaksanakan, mulai dari pertemuan biasa hingga pelaksanaan ritual slametan. Tidak terlihat perlengkapan shalat dalam ruangan tersebut, seperti mihrab dan mimbar khutbah; yang tersedia justru wayang kulit Arjuna dan Srikandi, dua tokoh pewayangan yang paling popular, digantung di tembok.
Sebaliknya, kelompok Reformis dan Reformis Moderat masing-masing memiliki tempat ibadah lengkap dengan mihrab yang menghadap ke arah tenggara. Sebagaimana fungsi masjid yang lain, mereka menggunakannya untuk beribadah, menyampaikan pengajian, dan bermusyawarah. Adapun kegiatan-kegiatan lainnya termasuk slametan dilaksanakan di luar masjid. Sebuah komunitas berhaluan Reformis Moderat yang dapat ditemukan di Belanda adalah Al-Jami’atul Hasanah yang didirikan pada tahun 1980. Al-Jami’atul Hasanah memiliki sebuah masjid dan ruang perkantoran di gedung yang sama dengan ruang serba guna milik komunitas Sida Mulya berada. Gedung tersebut diberi nama Stichting Setasan Centrum Santosa di kota Rotterdam. Organisasi ini banyak melakukan kegiatan keagamaan bekerjasama dengan PPME (Perkumpulan Pemuda Muslim Eropa) yang berpusat di Den Haag. Kerjasama ini terbukti sangat efektif untuk menanamkan nuansa keberagamaan yang moderat melalui kegiatan-kegiatan ciri khas kaum Nahdliyyin, seperti melantunkan salawat Badar dan Slawat Nariyah sebelum melaksanakan shalat; sebuah aktifitas yang tidak dilakukan dalam kelompok Reformis dan Kejawen.[22]
Satu kelompok lagi, Reformis, diwakili oleh organisasi Rukun Islam yang didirikan pada tahun 1980. Organisasi ini memiiliki hubungan dengan ICCN (Islamitisch Cultureel Centrum Nederland/Pusat Kebudayaan Islam Belanda), yang terkait erat dengan Muhammadiyah, sebuah organisasi reformis Islam terbesar di Indonesia. Beberapa anggota ICCN seperti Sufjan S. Siregar dan Sjukur, adalah khatib tetap sekaligus pengajar ilmu keislaman di komunitas Rukun Islam. Sebagaimana dijelaskan dalam penelitian Ichwan, organisasi ini pada awal berdirinya dibentuk pada tahun 1980 banyak diwarnai pemikiran yang moderat. Namun demikian, pada tahun 1986 para pemudanya memulai kampanye untuk pemurnian ajaran Islam. Sampai berakhirnya kepemimpinan Pak Muslih Mardi pada tahun 1988, Rukun Islam tetap bercorak moderat. Baru pada tahun 1990-an, ketika Pak Mardi kembali ke Suriname, corak moderat mulai memudar dan berganti dengan reformis.[23] Penjelasan ini sungguh sangat bermanfaat untuk menjelaskan perbedaan data antara penelitian Ichwan sendiri dan penelitian Dessing tentang apakah kelompok Reformis Moderat masih menjalankan ritual slametan atau tidak. Bahwa kesimpulan Dessing yang menyatakan bahwa kelompok ini tidak lagi melaksanakan slametan adalah dapat dipahami karena penelitian dilakukan pada tahun 1993 sampai 1997. Hal ini berbeda dengan Ichwan yang dalam penelitiannya banyak merujuk kepada data hasil penelitian Landman pada tahun 1991.[24]